26 Oktober 2014

Materi Try Out 3, Oktober 2014 (1)

Kegunaan Sosiologi

1. Untuk pembangunan
    Sosiologi berguna untuk memberikan data sosial yang diperlukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian pembangunan.
2. Untuk penelitian
    Dengan penelitian akan diperoleh suatu perencanaan atau pemecahan masalah sosial yang baik.

Ciri-ciri Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan
1. Empiris : berdasarkan pengamatan di lapangan.
2. Teoritis : menyusun abstraksi (kesimpulan) dari hasil pengamatan.
3. Kumulatif : teori yang ada dikembangkan, diperbaiki, diperluas, dan diperdalam.
4. Non-etis : tidak mempersoalkan baik buruknya fakta, namun menyajikan fakta apa adanya

Tipe Sosialisasi
1. Formal : melalui lembaga yang dibentuk oleh pemerintah dan masyarakat, mempunyai aturan tertulis yang cukup detil
    Contoh : pendidikan di sekolah
2. Nonformal : melalui lembaga yang dibentuk oleh masyarakat, mempunyai aturan tertulis secara global
    Contoh : lembaga kursus
3. Informal : dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan.
    Contoh : antara anggota keluarga, antara teman sebaya, sesama anggota klub

Bentuk-bentuk agen/media sosialisasi:
1. Keluarga
Peran keluarga :
- membekali keimanan dan ketaqwaan
- pemahaman pada nilai dan norma sosial

2. Sekolah 
    Berperan bagi pembentukan sikap dan watak anak, terutama seperti kedisiplinan, cinta tanah air, saling kerja sama, dan toleransi dalam hidup bermasyarakat.

3. Kelompok pergaulan / Teman sepermainan 
Contoh sosialisasi yang bersifat otoritatif:
Dalam berinteraksi dengan teman sebaya, seorang anak secara bebas tanpa paksaan dapat menerima ataupun menolak perilaku yang baik sesuai nilai dan norma sosial.
Keterlibatan remaja dalam kasus penggunaan narkoba lebih dominan disebabkan adanya pengaruh sosialisasi dari teman sepermainan.
4. Media massa : cetak atau elektronik.
Contoh pengaruh negatif media elektronik :
Arman yang dulunya berambut hitam tiba-tiba mengubah warna rambutnya menjadi pirang. Tindakan Arman tersebut dilakukan setelah sering melihat artis idolanya di televisi yang juga berambut pirang.

Tahap-tahap keteraturan sosial :
1. Tertib sosial

Individu-individu dalam masyarakat bertindak sesuai dengan hak dan kewajibannya, sesuai status dan perannya.
Warga masyarakat menyesuaikan tindakan dengan norma yang berlaku.
2. Order (ketertiban)

Warga masyarakat mengakui dan mematuhi norma yang berlaku.
3. Keajegan

Kondisi keteraturan yang tetap dan tidak berubah, berlangsung terus-menerus.
Warga masyarakat melaksanakan norma secara terus-menerus.
Contoh :
Setiap bulan konsumen/pelanggan PLN harus membayar rekening listrik. Ketentuan tersebut dilaksanakan dengan tegas sehingga tercipta keteraturan sosial.
4. Pola

Corak hubungan yang tetap atau ajeg dalam interaksi sosial yang dijadikan model bagi semua anggota masyarakat atau kelompok.
Tindakan warga masyarakat melaksanakan norma secara terus-menerus dijadikan model bagi semua warga masyarakat.
Contoh :
Musyawarah dijadikan pola untuk menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat karena sudah teruji dalam berbagai kejadian.

Macam-macam norma dalam masyarakat :
1. Norma kesopanan : norma yang bersumber dari aturan tingkah laku yang berlaku di masyarakat.
Contoh :
- tidak meludah sembarangan
- tidak meletakkan kaki di atas meja.
- tidak berkata kasar pada guru
2. Norma kesusilaan
: norma yang didasarkan pasa hati nurani atau akhlak manusia.
Contoh :
- tidak boleh menggoda wanita
- suami istri tidak bermesraan di tempat umum
3. Norma agama

Contoh : mendirikan shalat
- Fungsi norma agama bagi kehidupan masyarakat : menjaga solidaritas masyarakat beragama
4. Norma kebiasaan

Contoh : bersalaman ketika bertemu
5. Norma hukum

Contoh : warga masyarakat yang sudah berusia 17 tahun wajib memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk).


Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial:
a. imitasi : sikap meniru perilaku orang lain.

Contoh: anak meniru artis menyanyi
- remaja mengikuti gaya berpakaian artis
b. identifikasi : keinginan untuk menjadi sama dengan orang lain, biasanya orang yang diidolakan.

Contoh tokoh teladan : Umar bin Khattab
c. simpati : merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

d. empati : merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dan berbuat untuk melakukan sesuatu untuk orang tersebut.

Contoh:
- Seorang siswa SMP di China menyumbangkan seluruh uang tabungan hasil jerih payahnyanya dari mengumpulkan botol bekas air mineral kepada anak-anak korban HIV.

e. sugesti : pendapat seseorang yang diterima tanpa kritik.

- Biasanya pendapat tersebut diberikan oleh :

* Tokoh politik : Bung Karno

* Artis : Deddy Mizwar

f. motivasi : dorongan yang diberikan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu 


1) kerja sama :
- kerukunan

- bargaining : tukar-menukar barang dan jasa

- kooptasi : penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan

- koalisi : kerja sama antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama

- joint venture : kerja sama perusahaan dalam proyek tertentu


Akibat Tidak Berfungsinya Lembaga Pengendalian Sosial
· Tidak adanya kepastian hukum

· Kepentingan masyarakat sulit untuk dipenuhi
· Sering terjadi konflik
· Munculnya komersialisasi hukum, jabatan, dan kekuasaan.
· Munculnya sindikat-sindikat kejahatan yang mempunyai kepentingan khusus


Cara pengendalian sosial :
1. Persuasif (dengan ajakan atau bimbingan)
Contoh : Guru menegur siswa yang mencontek.
(Cara pengendalian : dengan menegur)
2. Koersif (dengan kekerasan)
Contoh : Polisi membubarkan demonstrasi mahasiswa dengan gas air mata.
(Cara pengendalian : dengan gas air mata)


Tujuan Pengendalian Sosial
a. Untuk menjaga ketertiban sosial.

Apabila nilai-nilai dan norma-norma sosial dijalankan semua masyarakat, maka ketertiban sosial dalam masyarakat dapat terpelihara. Salah satu cara menanamkan nilai dan norma sosial adalah melalui lembaga pendidikan dan keluarga. Melalui lembaga tersebut anak diarahkan untuk meyakini nilai dan norma sosial.
b. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan terhadap nilai-nilai dan norma-norma sosial di   masyarakat.
Dengan adanya pengendalian sosial seseorang atau masyarakat mulai berfikir (akibatnya) jika akan berperilaku menyimpang.
c. Untuk mengembangkan budaya malu.
Pada dasarnya setiap individu memiliki “rasa malu“, karena rasa malu berhubungan dengan harga diri seseorang. Harga diri seseorang akan turun jika seseorang melakukan kesalahan yang melanggar norma-norma sosial di dalam masyarakat. Jika seseorang melakukan kesalahan maka masyarakat akan mencela. Celaan tersebut menyadarkan seseorang untuk tidak mengulangi pelanggaran terhadap norma. Jika setiap perbuatan melanggar norma dicela maka “budaya malu“ akan timbul dalam diri seseorang.
d. Untuk menciptakan dan menegakkan sistem hukum.
Sistem hukum merupakan aturan yang disusun secara resmi dan disertai sanksi tegas yang harus diterima oleh seseorang yang melakukan penyimpangan.

Bentuk-bentuk perilaku menyimpang berdasarkan frekuensi/sanksi
1) Penyimpangan primer : bukan kebiasaan (baru dilakukan pertama kali)/sementara dan masih dapat ditolerir oleh masyarakat.

Contoh

- membunyikan petasan yang besar pada malam lebaran

- mengendarai motor di kampung dengan kecepatan tinggi

2) Penyimpangan sekunder : sudah menjadi kebiasaan dan tidak dapat ditolerir oleh masyarakat.

Contoh : 

- perampokan

- penggunaan narkoba 
Sebab terjadinya perilaku menyimpang:
a. Sosialisasi yang tidak sempurna : tidak mendapat pendidikan atau penanaman nilai dan norma secara utuh. 

Contoh

- Pada lembaga primer (keluarga), sosialisasi yang tidak sempurna sering terjadi karena perceraian suami istri. Karena suami istri bercerai, pendidikan norma anak terabaikan, akibatnya anak berperilaku menyimpang.

- Di sekolah seorang anak diajarkan untuk disiplin belajar tetapi di rumah tidak, sehingga ia tumbuh menjadi pemalas

b. Sosialisasi sub-budaya menyimpang : berinteraksi dengan kelompok yang menyimpang, sedikit demi sedikit terwarnai oleh nilai dan norma perilaku menyimpang, akhirnya berperilaku menyimpang.

Contoh

- Seorang pemuda biasa bergaul dengan kelompok pemabuk, lama-lama ia ikut mabuk-mabukan

- Seorang laki-laki kerja di salon. Lama-lama sikapnya seperti perempuan, suka dandan, bersolek dan jalan lenggak-lenggok.
 

Syarat terjadinya interaksi sosial:
a. kontak : berhubungan dengan orang lain

b. komunikasi : pengiriman dan penerimaan pesan antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami